• SMAN 2 SINGINGI
  • SMAN 2 SNG 2017
  • wajib
  • selamat datang
  • STRUKTUR SMAN 2
  • IED MUBARAK 1443 H

Selamat Datang di SMA NEGERI 2 SINGINGI

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMA NEGERI 2 SINGINGI

NPSN : 10494536

Jl. Poros No.30 RT 16 RW 6 Sungai Sirih Kec. Singingi Kab. Kuantan Singingi Propinsi Riau


info@sman2singingi.sch.id/ smanegeri2singingi@yaho

TLP :


          

Banner

Jajak Pendapat

No Poles setup.

Statistik


Total Hits : 581794
Pengunjung : 160781
Hari ini : 16
Hits hari ini : 37
Member Online : 4
IP : 3.236.83.154
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • Saefuddin, S.Pt (Guru)
    2016-12-03 22:49:44

    siapa lagi kalo bukan kita-kita yang aktif di portal SMA..tull gx..?
  • Pipit Suharmami S.Pd (Guru)
    2016-04-29 10:28:32

    guru kimia di SMAN2 Singingi Sungai Sirih
  • Rizki Utami (Guru)
    2016-04-29 10:11:53

    bekerja di SMA N 2 SINGINGI
  • Markon, A.Md (Guru)
    2016-03-13 18:17:39

    Operator Sekolah SMAN 2 Singingi 2016
  • Saefuddin, S.Pt (Guru)
    2014-03-27 11:26:49

    mencoba aktivasi members of big family of SMAN 2 singingi...

KONSEP PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH




KONSEP PENERAPAN BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH

Oleh :

Mulkismawati

CGP Angkatan 9

Budaya positif yang tercakup dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah watak/karakter yang merupakan pencerminan dari diri siswa, kodrat yang mereka miliki dari lahir yang mereka bawa dan bisa dijadikan budaya positif di sekolah. Budaya positif adalah sebuah nilai kebajikan yang menjadi keyakinan dan pada akhirnya menjadi karakter atau ciri khas dari sebuah komunitas atau lembaga.

Maka dari itu kuncinya adalah bagaimana kehebatan guru sebagai penuntun siswa dalam mengembangkan watak dan karakter mereka, guru hanya bisa mengontrol dan menuntun mereka menjadi lebih baik dan bukan mengubah kodrat yang mereka miliki.

Ada beberapa konsep yang harus diketahui untuk bisa membentuk budaya positif.

  1. Disiplin Positif

Disiplin positif adalah pendekatan mendidik murid untuk melakukan kontrol diri dan mencapai kepercayaan diri, sehingga mampu menciptakan murid yang merdeka dalam pembelajaran. Dalam rangka menciptakan lingkungan positif, salah satu strategi yang perlu kita tinjau kembali adalah penerapan disiplin di sekolah kita. Apa sesungguhnya arti dari disiplin itu sendiri? Apa kaitannya dengan nilai-nilai kebajikan?

Sebelumnya, mari kita tanyakan ke diri kita sendiri, bagaimana kita berperilaku? Mengapa kita melakukan segala sesuatu? Apakah kita melakukan sesuatu karena adanya dorongan dari lingkungan, atau ada dorongan yang lain?  Terkadang kita melakukan sesuatu karena kita menghindari rasa sakit atau ketidaknyamanan, terkadang kita juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa yang kita mau. Pernahkah Anda melakukan sesuatu untuk mendapat senyuman atau pujian dari orang lain? Untuk mendapat hadiah? Atau untuk mendapatkan uang? Apa lagi kira-kira alasan orang melakukan sesuatu?

Sekarang mari kita membahas tentang konsep disiplin positif yang merupakan unsur utama dalam terwujudnya budaya positif yang kita cita-citakan di sekolah kita. Ketika mendengar kata “disiplin”, apa yang terbayang di benak Anda? Apa yang terlintas di pikiran Anda? Kebanyakan orang akan menghubungkan kata disiplin dengan tata tertib, teratur, dan kepatuhan pada peraturan.  Kata “disiplin” juga sering dihubungkan dengan hukuman, padahal itu sungguh berbeda, karena belajar tentang disiplin positif tidak harus dengan memberi hukuman, justru itu adalah salah satu alternatif terakhir dan kalau perlu tidak digunakan sama sekali. 

Dalam budaya kita, makna kata ‘disiplin’ dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Kita cendrung menghubungkan kata ‘disiplin’ dengan ketidaknyamanan.

Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa “dimana ada kemerdekaan, disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat ”self discipline” yaitu kita sendiri yang mewajibkan kita dengan sekeras-kerasnya, tetapi itu sama saja; sebab jikalau kita tidak cakap melakukan self discipline, wajiblah penguasa lain mendisiplin diri kita. Dan peraturan demikian itulah harus ada di dalam suasana yang merdeka (Ki Hajar Dewantara, pemikiran, Konsepsi, Keteladanan, Sikap Merdeka,  Cetakan Kelima, 2013, Halaman 470). Di situ Ki Hajar menyatakan bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini, untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang memiliki motivasi internal. Jika kita tidak memiliki motivasi internal, maka kita memerlukan pihak lain untuk mendisiplinkan kita atau motivasi eksternal, karena berasal dari luar, bukan dari dalam diri kita sendiri.

Adapun definisi kata ‘merdeka’ menurut Ki Hajar adalah mardika iku jarwanya, nora mung lepasing pangreh, nging uga kuwat kuwasa amandiri priyangga (merdeka itu artinya; tidak hanya terlepas dari perintah; akan tetapi juga cakap buat memerintah diri sendiri). Pemikiran Ki Hajar ini sejalan dengan pandangan Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, 2001. Diane menyatakan bahwa arti dari kata disiplin berasal dari bahasa Latin, ‘disciplina’, yang artinya ‘belajar’. Kata ‘discipline’ juga berasal dari akar kata yang sama dengan ‘disciple’ atau murid/pengikut. Untuk menjadi seorang murid, atau pengikut, seseorang harus paham betul alasan mengapa mereka mengikuti suatu aliran atau ajaran tertentu, sehingga motivasi yang terbangun adalah motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik. 

Diane juga menyatakan bahwa arti asli dari kata disiplin ini juga berkonotasi dengan disiplin diri dari murid-murid Socrates dan Plato. Disiplin diri dapat membuat seseorang menggali potensinya menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna.  Dengan kata lain, disiplin diri juga mempelajari bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai. 

  • Motivasi Perilaku Manusia

Motivasi perilaku manusia adalah alasan yang mendasari sikap dan perilaku manusia, Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 motivasi perilaku manusia:

  1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman.

Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya? Sebenarnya mereka sedang menghindari permasalahan yang mungkin muncul dan berpengaruh pada mereka secara fisik, psikologis, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan mereka, bila mereka tidak melakukan tindakan tersebut. Motivasi ini bersifat eksternal. 

  • Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.

Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini orang berperilaku untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, apa yang akan saya dapatkan apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan pujian dari orang lain yang menurut mereka penting dan mereka letakkan dalam dunia berkualitas mereka. Mereka juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan hadiah, pengakuan, atau imbalan. Motivasi ini juga bersifat eksternal. 

  • Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. 

Orang dengan motivasi ini akan bertanya, akan menjadi orang yang seperti apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sesuatu karena nilai-nilai yang mereka yakini dan hargai, dan mereka melakukannya karena mereka ingin menjadi orang yang melakukan nilai-nilai yang mereka yakini tersebut. Ini adalah motivasi yang akan membuat seseorang memiliki disiplin positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan eksternal.

  • Hukuman, Konsekuensi dan Restitusi

Dalam menjalankan peraturan ataupun keyakinan kelas/sekolah, bilamana ada suatu pelanggaran, tentunya sesuatu harus terjadi. Untuk itu kita perlu meninjau ulang tindakan penegakan peraturan atau keyakinan kelas/sekolah kita selama ini. Tindakan terhadap suatu pelanggaran pada umumnya berbentuk

  1. Hukuman

Hukuman bersifat tidak terencana atau tiba-tiba. Anak atau murid tidak tahu apa yang akan terjadi, dan tidak dilibatkan. Hukuman bersifat satu arah, dari pihak guru yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa melalui suatu kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau sesudahnya. Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun psikis, murid/anak disakiti oleh suatu perbuatan atau kata-kata.

  • Konsekuensi

Sementara disiplin dalam bentuk konsekuensi, sudah terencana atau sudah disepakati; sudah dibahas dan disetujui oleh murid dan guru. Umumnya bentuk-bentuk konsekuensi dibuat oleh pihak guru (sekolah), dan murid sudah mengetahui sebelumnya konsekuensi yang akan diterima bila ada pelanggaran. Pada konsekuensi, murid tetap dibuat tidak nyaman untuk jangka waktu pendek. Konsekuensi biasanya diberikan berdasarkan suatu data yang umumnya dapat diukur, misalnya, setelah 3 kali tugasnya tidak diselesaikan pada batas waktu yang diberikan, atau murid melakukan kegiatan di luar kegiatan pembelajaran, misalnya mengobrol, maka murid tersebut akan kehilangan waktu bermain, dan harus menyelesaikan tugas karena ketertinggalannya. Peraturan dan konsekuensi yang mengikuti ini sudah diketahui sebelumnya oleh murid. Sikap guru di sini senantiasa memonitor murid.

  • Restitusi

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). 

  1. Kebutuhan Dasar Manusia

Semua orang senantiasa berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dengan berbagai cara. Bila mereka tidak bisa mendapatkan kebutuhannya dengan cara yang positif, mereka bisa melanggar peraturan atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebajikan. Glasser menyatakan bahwa kapasitas untuk berubah ada di dalam diri kita. Jika kita dapat mengidentifikasi kebutuhan apa yang mendorong perilaku kita, maka perubahan perilaku positif dapat dimulai dengan mencari solusi untuk memenuhi kebutuhan tertentu dengan cara yang positif


  1. Kebutuhan bertahan hidup (survival) adalah kebutuhan yang bersifat fisiologis untuk bertahan hidup misalnya makanan, pakaian, istirahat, tempat berlindung, keamanan, dan kesehatan. Secara sederhana itu dapat dipenuhi dengan makan, tidur, olahraga, memberikan perlindungan.
  2. Kasih sayang dan Rasa Diterima (Kebutuhan untuk Diterima) Kebutuhan ini termasuk kebutuhan psikologis seperti: rasa diterima, dipedulikan, berbagi, bekerja sama, menjadi bagian dari suatu kelompok, dikasihi-mengasihi, disayangi-menyayangi. Kebutuhan akan hubungan dan koneksi sosial, kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain, teman, keluarga, pasangan, rekan kerja, kelompok, dan bahkan dengan binatang peliharaan. Kebutuhan ini biasanya dapat dipenuhi melalui ketulusan dan kehangatan hubungan dengan keluarga, temanteman, kelompok, klub, guru, konselor, coach.
  3. Kekuasaan dan Penguasaan (Kebutuhan Pengakuan atas Kemampuan) Kebutuhan ini berhubungan dengan kekuatan seseorang untuk untuk mencapai sesuatu, menjadi kompeten, menjadi terampil, memimpin, berprestasi, diakui, dan didengar. Kebutuhan ini meliputi harga diri, keinginan untuk dianggap, dan meninggalkan pengaruh. Kebutuhan ini dapat dipenuhi melalui kegiatan-kegiatan seperti: proyek, hobi, tugas sekolah yang menantang-kontekstual-relevan, belajar menjadi orang yang kuat, membuat pilihan positif, dan bekerja.
  4. Kebebasan (Kebutuhan Akan Pilihan) Kebutuhan untuk bebas adalah kebutuhan untuk mandiri, otonom, memiliki pilihan, mengembangkan daya lenturnya, dan mampu mengendalikan arahnya sendiri. Kebutuhan ini terkait dengan kebebasan untuk memilih dan membuat pilihan, kebutuhan bergerak, mencoba-coba, mengeksplorasi hal baru dan menarik. Pemenuhan kebutuhan ini dapat dilakukan dengan menyediakan variasi, waktu senggang, memberikan ruang untuk jadi diri sendiri yang merdeka, serta liburan.
  5. Kesenangan (Kebutuhan untuk merasa senang) Kebutuhan akan kesenangan adalah kebutuhan untuk mencari kesenangan, humor, bermain, bersenang-senang, bergembira, antusiasme, dan tertawa. Glasser menghubungkan kebutuhan ini dengan belajar. Menurutnya, dengan bermain kita sekaligus mempelajari banyak keterampilan hidup yang penting. Biasanya kebutuhan ini juga dapat dipenuhi dengan menyediakan tantangan, gurauan, dan pembelajaran yang bermakna.
  6. Restitusi-Lima Posisi Kontrol

Berikut ini akan disampaikan suatu program disiplin positif yang berpusat pada murid, yang dikembangkan oleh Diane Gossen dengan pendekatan Restitusi, yang disebut dengan 5 Posisi Kontrol. Diane Gossen dalam bukunya Restitution-Restructuring School Discipline (1998) mengemukakan bahwa guru perlu meninjau kembali penerapan disiplin di dalam ruang-ruang kelas mereka selama ini. Apakah telah efektif, apakah berpusat, memerdekakan, dan memandirikan murid, bagaimana dan mengapa? Melalui serangkaian riset dan berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Penghukum

Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi. Seorang Penghukum menggunakan Nada suara tinggi, bahasa tubuh: mata melotot, dan jari menunjuk-nunjuk menghardik.

Hasil Dari Kontrol Penghukum memungkinkan murid marah dan mendendam atau bersifat agresif. Bisa jadi sesudah kembali duduk, murid tersebut akan mencoret-coret bukunya atau meja tulisnya. Lebih buruk lagi, sepulang sekolah, murid melihat motor atau mobil bapak/ibu guru dan akan menggores kendaraan tersebut dengan paku.

  • Pembuat Rasa Bersalah

Seorang pembuat rasa bersalah akan bicara dengan nada tenang, cendrung lemah lembut namun kata-kata yang diutarakan cendrung membuat murid menjadi orang yang gagal, memandang buruk dirinya sendiri, merasa tidak berharga, dan tidak sanggup membahagiakan orang lain. Ketika guru memposisikan dirinya sebagai pembuat rasa bersalah maka murid menganngap dirinya yang bersalah dan Ia akan menyimpan emosi tersebut di dalam dirinya

  • Teman

Dalam posisi teman, guru akan berbicara dengan nada ramah, akrab, cendrung bersanda gurau untuk menjaga agar suasana tetap santai . Murid akan merasa tenang, aman dan akrab dengan guru. Identitas yang tercipta adalah identitas sukses dan berhasil, namun karena ini adalah dorongan eksternal maka ada faktor ketergantungan dari murid pada orang tertentu, sehingga bisa jadi di lain kesempatan murid hanya berlaku baik pada orang-orang tertentu saja. Murid juga tidak bisa mandiri dan tidak bisa berpikir untuk diri sendiri

  • Pemantau

Posisi pemantau mengandalkan data atau penghitungan untuk mengontrol murid. Guru mengarahkan murid berdasarkan peraturan dan kosekwuensi. Seorang Pemantau akan bersuara datar, tidak emosional, tidak bersanda gurau ataupun menggunakan suara tinggi. Posisi pemantau akan menciptakan identitas diri positif atau berhasil, namun guru harus selalu memantau akan sanksi yang sudah diberikan. Damp aknya Murid akan senantiasa menghitung, konsekwensi dan hadiah tanpa memahami sepenuhnya nilai kebajikan yang dituju, hal ini juga membuat murid yang tidak sepenuhnya mandiri

  • Manager

Posisi manager adalah posisi kontrol yang disarankan untuk membimbing murid memiliki sikap disiplin yang positif, yaitu murid yang mandiri, bertanggung jawab dan dapat memecahkan masalah. Tujuan dari posisi ini adalah agar murid bisa merefleksi atas tindakannya, Guru dengan tulus akan memberikan pertanyan-pertanyaan yang bermakna sehingga murid dapat belajar dari kesalahannya dan mencari solusi untuk menyelesaikannya. Suara pada control manager ini netral, tidak emosional, tidak terlalu ramah, dan tidak bernada tinggi, akan tercipta identitas berhasil/positif.

  • Tiga Sisi Segitiga Restitusi

Diane Gossen dalam  bukunya Restitution; Restructuring School Discipline, (2001) telah merancang sebuah tahapan untuk memudahkan para guru dan orangtua dalam melakukan proses untuk menyiapkan anaknya untuk melakukan restitusi, bernama segitiga restitusi/restitution triangle.

  1. Mestabilkan Identitas

Pada tahap ini, guru akan menyampaikan bahwa membuat kesalahan adalah bagian dari prose pembelajaran, hal ini bermaksud untuk menggeser identitas murid dari identitas gagal ke identitas sukses, oleh sebab itu guru harus menghindari mengkritik murid yang berada pada fase ini. Guru bisa menyampaikan kalimat seperti: membuat kesalahan adalah sesuatu yang wajar, manusia tidak ada yang sempurna,kita bisa memperbaiki masalah ini, saya tidak terlalu peduli pada kesalahanmu karena lebih focus mencari pemecahan masalahmu, Apakah saat ini kamu tengah menjadi orang baik untuk dirimu sendiri?

  • Validasi Tindakan yang salah

Pada tahap ini guru harus memahami bahwa prinsip setiap perilaku karena ingin berupaya memenuhi suatu kebutuhan tertentu sehingga guru akan menggeser pemikiran stimulus-respon menjadi proaktif. Guru juga akan menyampaikan pertanyaan dengan nada suara tidak menghakimi atau memojokkan. Berikut beberapa pernyataan yang bisa disampaikan guru: Kamu bisa saja bertindak lebih gegabah dari itu, Kamu pasti melakukan karena ada alasan tertentu, kamu melakukannya karena mempertahankan sesuatu yang penting bagimu, mungkin kamu bisa mempelajari perilaku yang lebih efektif, bersediakah kamu mempelajarinya?

  • Menanyakan Keyakinan

Pada tahap terakhir ini akan tampak bahwa murid akan termotivasi secara intrinsik, saat perilaku telah divalidasi dan identitas sukses telah stabil, maka murid telah siap mengaitkan keyakinannya dengan tindakannya yang salah. Berikut adalah pertanyaan yang bisa kita ajukan: Sebagai keluarga kelas/sekolah, apa yang kita Yakini?, Nilai-nilai apa saja yang sudah kita sepakati?, Seperti apa gambaran kelas yang ideal menurut kamu?, Kamu ingin menjadi orang seperti apa?

Namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar segitiga Restitusi ini bisa berjalan dengan baik, Yaitu;

  1. Perilaku yang salah harus dikaitkan dengan nilai-nilai yang telah diyakini Bersama
  2. Kesediaan orang yang bersalah untuk memperbaiki kesalahannya dan berubah menjadi lebih baik
  3. Pemecahan masalah harus relevan dengan masalah yang ada
  4. Perlu adanya usaha perbaikan dari pihak yang bersalah
  5. Perlu didedikasikan waktu dari pihak yang bersalah, kapan akan mulai melakukan perbaikan akan kesalahannya.

Segitiga Restitusi tidak perlu dijalankan secara berurutan, jika memang kesalahannya ringan, guru langsung saja melakukan tahapan menanyakan keyakinan. Dengan menerapkan segitiga restitusi, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan bermakana diharapkan murid menjadi lebih kuat secara pribadi, membuka wawasan murid agar dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri, sehingga murid menjadi semakin percaya diri, mandiri dan merdeka.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas